Sixty Six High School (SMAN 66 Jakarta)

Monday, November 12, 2007

Sepi Duduk Sendiri

Mulai menginjak kelas dua belas di SMAN 66, jujur saya merasa semakin kesepian. Saya tidak tahu, memori-memori serta teman-teman saya yang terdahulu serasa tertinggalkan. Hal ini berefek buruk pada diri saya. Seperti saya menjadi sering merasa lupa nama dengan orang lain tapi wajahnya kenal (sangat kenal sekali). Hal ini terjadi pada saya sejak kelas Sepuluh di SMAN 66. Mungkin karena cultural shock.

Well, sebelumya, saya adalah seorang siswa di sebuah institusi sekolah terkenal di daerah Pondok Labu yaitu Al-Izhar Pondok Labu. Kehidupan saya, banyak saya alami kurang lebih selama sebelas (11) tahun disana, yaitu sejak saya menginjak Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP). Banyak pengalaman menarik, berkesan, sedih, marah, sebal, dan juga bangga saya bersekolah disana. Memori-memori unik, teman-teman yang baik maupun buruk, seperti sebuah jalur titian yang saya lewati dengan susah payah. Namun hal tersebut menimbulkan kesan yang amat sangat mendalam.

Saya tidak tahu ini trauma atau bukan, tapi saya terus muncoba untuk melakukan penetrasi sedemikan rupa semenjak saya masuk di SMAN 66, yang juga terletak di daerah Pondok Labu. Tapi namun entah kenapa, saya sangat belajar banyak sejak saya bersekolah disini. Seperti ada yang membimbing saya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Goncangan budaya akibat bertemuntya saya dengan teman teman yang berbeda secara latar belakang yang sangat heterogen, membuat saya sangat belajar banyak dari sini. Ibu saya selalu mengingatkan bahwa, mungkin hal ini merupakan cerminan situasi masyarakat Indonesia (atau masyarakat urban Jakarta) yang terkena dampak negatif globalisasi. Ya, benar. Globalisasi, sesuai yang didefinisikan di buku Sosilologi, yaitu suatu proses penyebaran unsur-unsur baru atau hal baru khususnya yang menyangkut informasi secara duniawi melalui berbagai media, seperti tercermin secara tegas dan lugas dalam kehidupan saya di SMAN 66.

Banyak sekali pengalaman saya yang saya terima di Al-Izhar. Saya memperoleh teman-teman berkarakter sangat unik yang seperti desperate for attention namun benar-benar unik-unik, kaya, dan intelektual. Mereka seperti hidup di dunia mereka sendiri. Berbagai realita sosial di masyarakat nampak tidak satpun tersirat dalam pikiran-pikiran mereka. Mereka kaya, mereka mampu merdeka, mereka cerdas, mereka intelektual, mereka berwawasan luas, berkesempatam besar, dan yang terpenting, mereka membuat saya untuk belajar. Belajar bagaimana pentingnya hidup untuk belajar.

Kehidupan di Al-Izhar seperti kehidupan di surga belajar (Subahanallah!). Kita selalu disuguhkan oleh guru-guru kita bagaimana kiat-kiat belajar yang baik. Kita mempuntai guru yang intelektual, yang dipadu dengan media serta fasilitas yang memadai. Kita disana memang dibentuk untuk menjadi pemimpin yang hebat, cerdas, berwibawa, dan sangat superior. Yah, sangat superior. Hebat. Saya sangat bersyukur atas pengalaman hidu sebelas tahun disana.

Barusan saya Shalat Isya di Masjid Al-Muhajirin deket rumah. Saya InsyaAllah selalu akan melaksanakan shalat-fardhu disana. Biasanya Maghrib sama Isya, tapi, kadang-kadang Ashar kalo abis pulang sekolah. Shalat fardhu yang paling saya ingin adalah Shalat Subuh. Sampai sekarang, saya belum berhasil kesampaian melaksanakan Shalat Subuh disana. Well, doakan saya agar bisa membiasakan Subuh disana besok.

Kembali ke SMAN 66, saya menemukan orang-orang yang sangat merubah hidup saya. Teman-teman saya yang benar benar berasal dari penjuru Indonesia yang bermigrasi ke kota metropolitan Jakarta, sangat mencerminkan budayannya masing-masing. Mereka berakulturasi menghadapi cobaan global yang menyerang dunia melalui kota urban Jakarta, the city that's never sleep and always producing money. Diskriminasi sosial sangat terasa terlihat teman teman saya. Saya terkadang merasa kasihan dan ingin sekali menolong mereka secara batiniyah menghadapi gemblengan global yang dapat menyebabkan anomie, bagi mereka yang tidak siap atau cultural lag. Tapi sebagai yang minoritas dan mungkin kurang senasib dan sepenanggunga, saya belum berhasil membantu mereka dengan proper. Well, mungkin juga masih masa pubertas yang mungkin saya sendiri juga masih mengalaminya. It's difficult to take care of them in short time (3 years in High School) by speaking and campaigning, because then again, they're desperate for attention.

It's OK desperating attention, but the point is, they don't have the "media" to express it. As we now, the globalization era, really teach us to be a materialistic. Everything is being judge by material status. Kita bisa memperoleh sesuatu dengan hanya uang. Liberalisme juga dijarkan disini. Tidak salah, banyak sekali saya mendengar asumsi-asumsi teman-teman di sekolah maupun dari para guru, yaitu UUD (Ujung Ujungnya Duit). The dilemma really makes my head pops out. I never get this kind of experience in Al-Izhar, as an elite school with homogenic students.

Lot's of my friend that have done some side project as a professional. Almost ten (10) or more of my friends have joining the Multi Level Marketing (MLM) bussines, that allow any people, with any background of economy to sale some product's personally by peer to peer. Well, because the background of businness, most of them said that it helps them to fulfill their needs. They seems working like there's no other choices and option to be approach any more. If we could be thankfull to god, at least we are still having the chance to change up our life first as a student. We still have a chance to continue our study to the university, and (sorry) not like the people who dosen't have any change at all. Inside their head, The bachelor degree (Sarjana / S1) is only have the same status of supir Bus Way / Transjakarta Bus Way Driver (as the fact it is). So, they're just starting their bussines from now and hoping that in two (2) or three (3) years from now, they could get stars (as their position) of a senior and could get the BMW / Mercedes in the next five (5) years. :)

Well, most of people could say that it's ridiculous, but fortunately it happens. This a dilemma that is bothering my head now.

I have to study Math for tomorow's assingment now, so see you later guys!

See you later guys!

Labels: